Fakta Unik Dunia

Menyajikan Informasi Fakta Unik Dunia

Pendidikan

Cara Melatih Softskill Diri Sendiri

Cara Melatih Softskill Diri Sendiri

Cara Melatih Softskill Diri Sendiri

Cara Melatih Softskill Diri Sendiri

Hardskill memang penting dalam mencari pekerjaan, tetapi tanpa didukungnya Softskill yang bagus, tak heran jika sudah bekerja selama berpuluh – puluh tahun karir seseorang mentok disitu – situ saja dengan kata lain Stagnan. Seseorang yang meliki Softskill yang bagus, telah membuktikan bahwa Softskill juga perlu dilatih agar karir seseorang lama – kelamaan semakin meningkat mencapai level yang lebih tinggi. Softskill merupakan kunci utama seseorang yang ingin berkarir dimanapun dan pada posisi apapun.

Banyak pakar yang mengatakan bahwa Softskill bukan hanya sekedar untuk dipelajari, dihapalkan atau diingat, yang terpenting dari Softskill lebih kepada bagaimana cara kita untuk mengimplementasikannya kedalam kehipupan sehari – hari. Softskill berbeda dengan Hardskill yang bisa didapatkan dengan mudah, untuk mendapatkan softskill dibutuhkan kesadaran diri sendiri dalam tata cara melakukan kegiatan sehari – hari.

Ada beberapa Strategi dalam melatih Softskill, yaitu sebagai berikut :

1. Aktif Mengikuti Training Softskill    

Training Softskill telah tumbuh pesat, mengingat bangsa ini memiliki masalah yang besar dengan warga negaranya. Sikap dan tingkah laku atau etika (attitude) yang kurang baik sering menjadi beban dalam berkembangnya sebuah organisasi. ditambah dengan kurangnya kerjasama tim, motivasi, dan kurangnya kemampuan dalam memimpin, lengkaplah sudah yang menjadi penyebab kemunduran bangsa ini.Secara sederhana Training Softskill bisa dipahami sebagai pelatihan yang orientasinya lebih terpaku kepada pengembangan Attitude dan sikap individual.

2. Terjun dan Aktif dalam Berorganisasi

Salah satu strategi untuk sukses dalam menguasai Softskill adalah dengan terjun dan aktif dalam berorganisasi. Banyak organisasi yang dapat diikuti dalam menguasai Softskill antara lain organisasi disetiap universitas seperti, Senat, BEM ( Badan Eksekutif Mahasiswa ), UKM ( Unit Kegiatan Mahasiswa ), dll. Apabila kita bisa aktif dalam satu atau lebih pada organisasi seperti diatas tidak menutup kemungkinan kita untuk dapat mengembangkan Softskill dalam diri kita. Dengan aktif dalam organisasi kita akan terbiasa melakukan musyawarah atau presentasi didepan umum, terbiasa berdiskusi mengenai visi dan misi kedepan sebuah organisasi dan belajar mengelola emosi dalam situasi dan kondisi tertentu.

3. Sugesti Diri

Bangunlah sebuah paradigma bahwa visi itu bukanlah sebuah mimpi, bukan angan – angan kita namun itu adalah kenyataan dimasa mendatang. Maka yakinlah bahwa visi itu akan tercapai dimasa mendatang dan untuk itu ada kalanya mari kita mempersiapkan diri dan katakan kepada hati nurani diikuti oleh hati, otak , pikiran, perasaan dan seluruh anggota tubuh. katakanlah hal yang positif kepada diri kita yang dapat memotivasi kita untuk sukses dan jangan lupa untuk membangun rasa optimisme tersebut.

Softskill dapat dikembangkan dengan berbagi cara, bukan hanya dengan yang saya jelaskan diatas, akan tetapi kita dapat melatih Softskill dengan cara berolahraga tim, dll. Dengan kita berolahraga, secara tidak langsung kita telah melatih Softskill kita. anda tahu mengapa.?? Dengan kita melakukan olahraga tim kita akan dituntut untuk melakukan sebuah kerjasama tim, kita ambil contoh dari permainan sepak bola. Dalam permainan sepak bola dibutuhkan kerjasama sebuah tim agar tim tersebut dapat memenangkan sebuah pertandingan, dari situlah Softskill kita sedikit demi sedikit mulai terbentuk, tapi masih ada hal lain yang dapat membentuk Softskill kita, selain kerjasama tim yang kita lakukan dalam bermain sepak bola adalah jiwa pantang menyerah, semangat berjuang, dan setia kawan. Hal itulah yang dapat membantu kita dalam melatih Softskill yang kita miliki.
Penulis berharap semoga tulisan ini bermanfaat untuk masyarakat yang ingin mengembangkan Softskill mereka.


Sumber:

https://www.sekolahbahasainggris.co.id/

Comments are Closed

Theme by Anders Norén