Fakta Unik Dunia

Menyajikan Informasi Fakta Unik Dunia

Teknologi

Jangan Takut Bertransformasi Digital

Jangan Takut Bertransformasi Digital

Jangan Takut Bertransformasi Digital

Jangan Takut Bertransformasi Digital

MEMASUKI penghujung 2018, ada fakta mengejutkan perihal sepak terjang digital dari dunia korporasi Tanah Air. Berdasakan Indeks Transformasi Digital Dell Technologies (DT Index), hanya 6% bisnis di Indonesia yang masuk dalam kategori Pemimpin Digital. Sementara itu, 57% pemimpin bisnis di Indonesia meragukan kemampuan perusahaan mereka dalam memenuhi tuntutan pelanggan yang terus berubah dalam jangka lima tahun ke depan.

Adapun 27% pemimpin bisnis khawatir mereka akan kalah bersaing. DT Index

merupakan hasil studi pemetaan atas transformasi digital yang dilakukan perusahaan-perusahaan skala menengah hingga besar. Studi juga melibatkan pendapat perusahaan-perusahaan tersebut tentang kinerja mereka dalam beberapa bidang dengan mengacu pada faktor-faktor penting dari sebuah bisnis digital, seperti strategi teknologi informasi (TI), strategi transformasi tenaga kerja, dan rencana investasi.

Lebih lanjut, mayoritas responden perusahaan di Indonesia termasuk kategoriEvaluator Digital, yang berarti masih banyak perusahaan yang mempertimbangkan atau malah menunda melakukan apa pun terkait dengan transformasi digital. “Kita sudah sering mengatakan kalau kita saat ini berada di titik puncak perubahan besar, tapi situasi sudah berubah,” ujar Vice President, Data Center Solutions, Asia Pacific & Japan, Dell EMC, Paul Henaghan, dalam paparan pers di Jakarta, Kamis (22/11).

Lebih lanjut, Paul menambahkan bahwa era digital tahap selanjutnya sudah datang

dan sudah mulai menata ulang cara hidup orang banyak termasuk cara bekerja dan berbisnis. “Artinya, waktu sangatlah penting. Transformasi yang sebenarnya harus terjadi sekarang dan secara radikal,” imbuh Paul. Dari hasil riset Dell itu, setidaknya ada empat hambatan bagi mayoritas perusahaan di Tanah Air untuk bertransformasi digital.

Pertama, adanya kekhawatiran akan privasi data dan keamanan siber. Kedua,

kurangnya anggaran dan sumber daya peraturan atau perubahan legislatif. Ketiga, kurangnya teknologi yang tepat untuk digunakan sesuai kecepatan yang dibutuhkan bisnis tersebut. Terakhir, kurangnya tenaga dan pengalaman yang tepat di dalam perusahaan.

 

Baca Juga :

Comments are Closed

Theme by Anders Norén