Fakta Unik Dunia

Menyajikan Informasi Fakta Unik Dunia

Pendidikan

KONSEP DASAR AKUNTANSI

KONSEP DASAR AKUNTANSI

Table of Contents

KONSEP DASAR AKUNTANSI

KONSEP DASAR AKUNTANSI

Entitas dan Kegiatan Usaha

Pada dasarnya, seluruh manusia di dunia ini hidup untuk bertahan hidup (life to survive). Untuk tujuan inilah manusia melakukan kegiatan usaha, yaitu mengolah sumber daya yang tersedia menjadi sumber daya lainnya. Karena manusia tidak dapat menciptakan dan mengolah sumber daya sendiri, terjadilah transaksi pertukaran sumber daya. Pertukaran ini dapat menjadi adil, jika seluruh sumber daya diukur menggunakan alat ukur yang sama. Manusia modern menggunakan uang untuk tujuan ini.

Namun, terbatasnya sumber daya dan kemampuan untuk menguasainya membuat manusia tidak dapat melakukan kegiatan bertahan hidup secara sendiri-sendiri. Oleh karena itu, manusia modern menciptakan subsistem-subsistem untuk melakukan kegiatan usaha. Subsistem-subsistem ini memiliki fungsi masing-masing yang saling terintegrasi membentuk sistem ‘kehidupan’. Subsistem ini disebut sebagai entitas usaha. Contoh dari entitas usaha adalah, universitas, lembaga penelitian, perusahaan, koperasi, pemerintah, BUMN, lembaga sosial masyarakat (LSM), partai politik, organisasi keagamaan, dan lain sebagainya. Disebut entitas usaha karena entitas tersebut melakukan kegiatan usaha apapun bentuk dan tujuan usahanya.

Uang merupakan alat pertukaran dan suatu ukuran sumber daya dari suatu entitas. Dalam melakukan kegiatan usaha, setiap entitas pasti menggunakan uang. Apapun jenis entitasnya, baik entitas non-profit seperti pemerintahan dan LSM, maupun entitas bisnis seperti perusahaan dan BUMN.

Entitas dalam melakukan kegiatan usaha memiliki saling keterkaitan. Tidak ada entitas yang secara sendiri dapat melakukan kegiatan usaha dan menguasai seluruh sumber daya. Oleh karena itu, setiap entitas perlu untuk melaporkan penggunaan uang sebagai sumber daya yang digunakan dalam kegiatan usahanya kepada entitas lain yang berkepentingan. Jika pencatatan dan pelaporan penggunaan uang tidak dilakukan dengan benar, pengolahan sumber daya yang tersedia oleh entitas-entitas yang saling berkaitan ini tidak akan menjadi efektif dan efisien. Akibatnya, keseimbangan sistem ‘kehidupan’ dapat terganggu. Atau dalam kata lain, kesejahteraan bersama umat manusia tidak akan tercapai.

Disinilah peran akuntansi, yaitu untuk mencatat dan melaporkan kegiatan usaha dalam bentuk laporan keuangan. Tujuannya secara makro, agar setiap entitas yang saling terintegrasi dalam sistem kehidupan dapat mengendalikan penggunaan sumber daya yang ada.

Akuntansi

Selama berabad-abad akuntansi telah digunakan sebagai alat pelaporan keuangan suatu entitas kepada pihak yang berkepentingan. Dalam hal ini, akuntansi dapat dikatakan sebagai bahasa bisnis yang digunakan oleh pelapor (entitas pelapor) untuk ’menceritakan’ kegiatan usahanya terkait dengan penggunaan uang ke pihak-pihak yang berkepentingan. Sebagai contoh, pemilik menyerahkan Rp1.000.000 ke entitas. Pada akhir periode, entitas telah mengolah Rp1.000.000 tadi menjadi Rp2.000.000. Tanpa diberi ’cerita’ mengenai apa yang telah entitas lakukan atas Rp1.000.000 yang diserahkan pemilik pada awal periode, pemilik tidak akan tahu perubahan Rp1.000.000 menjadi Rp2.000.000 asalnya dari mana.

Hingga saat ini, para teoris akuntansi masih belum sepakat mengenai definisi akuntansi. Beberapa dari mereka mendefinisi akuntansi sebagai seni, beberapa mendefinsi akuntansi sebagai sains terapan, dan beberapa mendefinisi akuntansi sebagai teknologi. Akuntansi dapat dikatakan sebagai kerajinan (art) karena orang yang akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan akuntansi harus terjun langsung dalam dunia praktik dan mengerjakan magang (apprenticeship) pada praktisi (Suwardjono, 2005). Sedangkan akuntansi disebut sebagai sains dengan penjelasan berikut ini (Stanley, 2007):

Accounting is comprised of general principles pertaining to the environment from which it draws and serves. It is an administrative information science [Salvary 1979;1985;1989;1992]. “A science often is described as a systematic body of knowledge; a complete array of essential principles or facts, arranged in a rational dependence or connection; a complex of ideas, principles, laws forming a coherent whole. . .” [Johnson; Kast; and Rosenzweig 1967:4]. Consistent with the foregoing description, accounting emerges as an empirical science. Specifically, it is concerned with events and measures relevant to efficient organizational control and planning.

Selain didefinisikan sebagai seni dan sains, akuntansi juga didefinisikan sebagai teknologi.  Dalam buku ini, penulis mendefinisikan akuntansi sebagai:

suatu teknologi yang digunakan oleh entitas untuk merekacipta data-data keuangan sehingga menjadi informasi yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Dari definisi ini dapat ditarik empat kata kunci yaitu,

  • teknologi
  • perekaciptaan informasi keuangan
  • pengambilan keputusan
  • pihak-pihak yang berkepentingan

Teknologi berasal dari Bahasa Yunani technología (τεχνολογία) yang memiliki dua kata dasar yaitu téchnē (τέχνη), suatu ‘seni’ atau ‘keterampilan’ dan -logía (-λογία), ilmu yang mempelajari sesuatu atau cabang suatu pengetahuan. Organisation for Economic Cooperation and Development (2001) mendefinisikan teknologi secara luas sebagai,

“The currently known ways of converting resources into outputs desired by the economy” (Griliches, 1987) and appears either in its disembodied form (such as new blueprints, scientific results, new organizational techniques) or embodied in new products (advances in the design and quality of new vintages of capital goods and intermediate inputs).

Dalam definisi ini, teknologi adalah suatu cara untuk mengubah sumber daya menjadi hasil. Teknologi tidak harus dalam bentuk berwujud tetapi dapat juga dalam bentuk takberwujud. Akuntansi dapat dikatakan sebagai teknologi yang merupakan penerapan pengetahuan dan ketrampilan yang melibatkan proses perekaciptaan (engineering), dan digunakan untuk membantu manusia dalam mengolah data-data transaksi menjadi informasi keuangan yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan.

Kata kunci kedua dari definisi akuntansi adalah perekaciptaan informasi keuangan. Saat ini, definisi perekaciptaan informasi keuangan telah bergeser menjadi lebih luas. Dahulu, definisi akuntansi terbatas pada perekaciptaan informasi keuangan kuantitatif, yaitu sistem yang mencatat dan mengolah data-data transaksi sehingga menjadi informasi keuangan kuantitatif. Sistem pengolahan transaksi ini diawali dari penjurnalan (pencatatan data transaksi), pemindahbukuan (posting), dan diakhiri dengan dihasikannya laporan keuangan kuantitatif. Namun, perkembangan bisnis yang semakin kompleks membuat persyaratan pengungkapan informasi kualitatif yang mendukung informasi keuangan kuantitatif menjadi lebih penting dan mendetail. Pengungkapan informasi kualitatif ini merupakan bagian takterpisahkan dari laporan keuangan, yang bertujuan untuk menyediakan informasi keuangan yang jujur dan wajar, agar pengambilan keputusan dapat dilakukan atas dasar informasi yang cukup, andal, dan menyeluruh.

Kata kunci ketiga yaitu pengambilan keputusan, merupakan tujuan utama dari penggunaan informasi keuangan. Pengambilan keputusan dalam akuntansi dibagi menjadi dua, pengambilan keputusan internal dan pengambilan keputusan eksternal. Pengambilan keputusan internal adalah pengambilan keputusan bagi pihak internal yaitu manajemen, untuk kepentingan terkait pengendalian sumber daya (input) dan hasil (output) yang dikelola, pertanggungjawaban, dan perancangan strategi. Sedangkan pengambilan keputusan eksternal adalah pengambilan keputusan bagi pihak eksternal seperti kreditur dan pemilik, untuk kepentingan terkait pemberian pinjaman, analisis kinerja, atau penambahan modal. Selain itu, pihak eksternal lain seperti pemerintah, akan membutuhkan informasi keuangan untuk pengambilan keputusan terkait dengan pengelolaan pajak dan sumber daya ekonomi.

Kata kunci terakhir, yaitu pihak-pihak berkepentingan (stakeholders), adalah seluruh pihak yang memiliki kepentingan atas entitas, termasuk di dalamnya adalah pihak-pihak berelasi (related parties). Entitas perlu melaporkan laporan keuangan bagi pihak-pihak berkepentingan sebagai bentuk akuntabilitas (pertanggungjelasan) dan transparansi atas kegiatan entitas dalam menggunakan uang. Namun, tujuan utama penyediaan informasi keuangan entitas adalah memberikan dasar bagi pihak-pihak berkepentingan dalam pengambilan keputusan, terutama terkait dengan keputusan-keputusan ekonomik. Berikut ini merupakan contoh beberapa pihak-pihak berkepentingan dan kaitannya dengan kebutuhan informasi untuk pengambilan keputusan.

Pihak-Pihak BerkepentinganPengambilan Keputusan Terkait
Manajemen (internal)Pengendalian, perancangan strategi
Pemilik (eksternal)Terkait kinerja manajemen, penambahan modal
Kreditor (eksternal)Pemberian pinjaman
Pemerintah (eksternal)Perpajakan, strategi ekonomi makro
Pelanggan (eksternal)Loyalitas
Pemasok (eksternal)Kerjasama pemasokan barang dagangan

Sumber : https://jalantikus.app/

Comments are Closed

Theme by Anders Norén